Wabah Ebola Meluas ke Nigeria, Korban Tewas di Kongo Capai 4.687 Jiwa

0
Tenaga medis memakamkan pasien yang meninggal akibat Ebola, sementara keluarga korban menyaksikan dari kejauhan. Wabah ini telah menewaskan ribuan orang dan kini mengancam negara-negara lain di Afrika (Foto Reuters)

Nigeria, laporbatam.com – Wabah Ebola yang melanda sejumlah negara di Afrika meluas ke Nigeria setelah negara terpadat di benua tersebut mengonfirmasi kasus pertama dalam lebih dari satu dekade pada 20 Oktober 2026. Perkembangan ini menambah kekhawatiran otoritas kesehatan terhadap risiko penyebaran lintas negara.

Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tertanggal 23 Oktober 2026, wabah virus Bundibugyo yang pertama kali terdeteksi di Republik Demokratik Kongo pada Mei 2026 telah menyebabkan 4.687 kematian dari 9.704 kasus terkonfirmasi hingga 20 Oktober. Selain Kongo, kasus terkait wabah juga dilaporkan di Kenya dan Nigeria, sementara Uganda sebelumnya telah menyatakan wabah di negaranya berakhir.

Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika, Jean Kaseya, mendesak tindakan segera dan kepemimpinan politik tingkat tinggi untuk mengendalikan penyebaran virus tersebut.

“Ebola kini memengaruhi tiga kawasan di Afrika. Situasi ini menuntut tindakan segera dan kepemimpinan politik di tingkat tertinggi,” kata Kaseya, seperti dikutip Reuters.

Kasus di Nigeria melibatkan seorang perempuan warga Uganda yang tiba di ibu kota Abuja pada 5 Oktober 2026 melalui Addis Ababa, Ethiopia. Menurut keterangan pejabat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nigeria, Odianosen Ehiakhamen, pasien mulai mengalami gejala pada 7 Oktober.

Pada 11 Oktober, perempuan tersebut mendatangi sebuah rumah sakit swasta di Abuja karena mengalami gejala menyerupai malaria. Namun, kondisinya tidak membaik. Setelah riwayat perjalanan pasien diketahui, petugas kesehatan melakukan pemeriksaan Ebola pada 19 Oktober. Hasil positif dikonfirmasi sehari kemudian.

Jeda antara munculnya gejala dan konfirmasi diagnosis menjadi perhatian karena berpotensi mempersulit pelacakan kontak serta meningkatkan risiko paparan terhadap orang lain.

Dokter asal Nigeria, Ayoade Alakija, yang menjabat sebagai wakil ketua komite G7 untuk investasi kesehatan global, turut menyoroti risiko penyebaran wabah dari Afrika Timur ke Afrika Barat. Ia mengingatkan bahwa mobilitas penduduk dan konektivitas transportasi dapat memperbesar tantangan pengendalian penyakit.

Otoritas kesehatan Nigeria telah mengidentifikasi 44 orang yang melakukan kontak dengan pasien. Sebagian besar merupakan tenaga kesehatan. Daftar tersebut juga mencakup suami pasien, seorang warga negara Swiss yang tinggal bersamanya di Abuja.

Petugas turut menelusuri penumpang yang melakukan perjalanan bersama pasien dari Uganda ke Nigeria. Meski demikian, penyelidikan epidemiologi masih berlangsung untuk memastikan riwayat perjalanan secara lengkap dan kemungkinan sumber paparan virus. Pasien saat ini menjalani isolasi dan menerima perawatan medis.

Menteri Kesehatan Nigeria, Muhammad Ali Pate, menyatakan negaranya memiliki sistem penanganan untuk menghadapi kasus Ebola. Nigeria sebelumnya berhasil mengendalikan wabah pada 2014, ketika epidemi besar melanda Afrika Barat.

Virus Bundibugyo yang menyebabkan wabah kali ini memiliki tingkat kematian kasus sekitar 48 persen berdasarkan data WHO hingga 20 Oktober. Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum tersedia pengobatan atau vaksin yang disetujui secara khusus untuk penyakit akibat virus tersebut.

Sementara itu, otoritas kesehatan Uganda menyatakan tidak terdapat kasus aktif setelah WHO menyatakan wabah di negara tersebut berakhir pada Agustus 2026. Pemerintah Uganda juga menegaskan bahwa riwayat perjalanan pasien Nigeria melalui Uganda tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa infeksi terjadi di negara itu.

Di Kenya, kasus pertama yang terkonfirmasi pada awal Oktober berkaitan dengan seorang pelancong yang datang dari Kongo melalui Uganda. Hingga 20 Oktober, Kenya melaporkan sembilan kasus, termasuk satu kematian. Delapan kasus lainnya diketahui memiliki hubungan epidemiologis dengan pasien pertama.

Di Kongo, penyebaran virus masih berlangsung di puluhan zona kesehatan yang tersebar di delapan provinsi. WHO menyoroti tantangan berupa keterlambatan deteksi kasus, keterbatasan akses terhadap perawatan, serta belum optimalnya pelacakan kontak di sejumlah wilayah.

Situasi ini membuat penguatan pengawasan kesehatan, pelacakan kontak, dan koordinasi lintas negara menjadi bagian penting dalam upaya membatasi penyebaran Ebola. WHO juga mengimbau negara-negara untuk mempertahankan kesiapsiagaan dan memperkuat deteksi dini, sembari menyatakan tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan maupun perdagangan dengan negara-negara terdampak berdasarkan informasi yang tersedia saat ini.

sumber : kepri24jam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here