Usai Festival Sastra Raja Ali Haji, Penyair Lintas Daerah Hidupkan Panggung Laman Kata Rumahitam

0
Usai Festival Sastra Raja Ali Haji, Penyair Lintas Daerah Hidupkan Panggung Laman Kata Rumahitam

Batam, laporbatam.com – Suasana sastra kembali semarak di panggung Laman Kata Komunitas Seni Rumahitam, kawasan Sekupang, Batam. Sejumlah penyair dari berbagai daerah bertemu dengan pegiat sastra dan pencinta puisi setempat dalam sebuah malam apresiasi seni dan kebudayaan, Jumat (30/10/2026).

Pertemuan yang berlangsung di halaman Galeri Tanjak, Suratan Coffee & Resto, Kompleks Komunitas Seni Rumahitam tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus pertukaran gagasan melalui pembacaan puisi dan obrolan kebudayaan.

Sejumlah penyair dari Jakarta, Padang, dan Pekanbaru menyempatkan diri singgah di Rumahitam setelah mengikuti Festival Sastra Raja Ali Haji di Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri). Sebelum kembali ke daerah masing-masing, mereka bertemu dengan para pegiat sastra Batam dan berbagi karya di panggung Laman Kata.

Tiga penyair yang hadir di antaranya Hening Wicara dari Pekanbaru, Novriza dari Padang, dan Yahya Andi Saputra dari Jakarta. Mereka tampil bersama sejumlah penyair lainnya dalam suasana yang berlangsung akrab dan penuh apresiasi.

Presiden Komunitas Seni Rumahitam, Tarmizi, mengatakan kunjungan penyair dari luar daerah setelah mengikuti kegiatan sastra di wilayah Kepri telah menjadi tradisi yang berlangsung sejak lama.

Menurutnya, para penyair yang tampil dalam berbagai kegiatan sastra di Bintan, Tanjungpinang, Karimun, hingga Lingga kerap menyempatkan diri berkunjung ke Rumahitam untuk bersilaturahmi dan membaca puisi bersama.

“Dari dulu begitu, habis tampil di Bintan, Tanjungpinang atau Karimun, Lingga dan lainnya, mereka akan mampir di Rumahitam sambil beranjangsana dengan penyair dan penulis sastra di Batam. Bercengkrama dan baca puisi di panggung Laman Kata Rumahitam,” kata Tarmizi.

Puisi Bertema Sosial dan Lingkungan Warnai Pertunjukan

Masing-masing penyair menghadirkan karya dengan tema dan karakter pembacaan yang berbeda. Penampilan mereka membawa beragam persoalan sosial dan lingkungan ke hadapan para penikmat sastra yang hadir.

Yahya Andi Saputra dari Jakarta membawakan puisi berjudul Ayat MBG. Dengan karakter vokal dan gaya pembacaan yang khas, ia menarik perhatian puluhan audiens. Karya tersebut menghadirkan pesan berupa kritik dan pengingat terhadap persoalan yang diangkat dalam puisinya.

Sementara itu, Novriza dari Padang tampil dengan pembacaan puisi yang kuat dan ekspresif. Karya yang dibawakannya mengangkat bencana banjir dan angin siklon di wilayah Padang.

Nuansa berbeda disuguhkan Hening Wicara dari Pekanbaru melalui puisi bertema bencana asap. Persoalan lingkungan tersebut memiliki kedekatan dengan pengalaman masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera.

Selain ketiga penyair tersebut, Gochi dari Jakarta dan Emi Cilung juga turut tampil meramaikan panggung Laman Kata Rumahitam.

Penyair dan pegiat sastra dari Batam turut mengambil bagian, di antaranya Ning, penyair perempuan yang juga berprofesi sebagai guru sekolah dasar; Cak Ansor; Rimare; Kavi selaku Ketua PWI Batam; serta Denni Risman, pengurus SIWO PWI Pusat.

Kehadiran para penyair lintas daerah menjadikan panggung tersebut sebagai ruang pertemuan berbagai gagasan, pengalaman, dan ekspresi melalui karya sastra. Sejumlah pengunjung yang hadir sebagai penikmat mengaku menikmati pertunjukan malam itu.

Tokoh Melayu Batam sekaligus pengusaha perkapalan, Osman Hasyim, mengaku tertarik untuk kembali menghadiri kegiatan sastra yang digelar Rumahitam.

“Saya kenal Tarmizi Rumahitam sudah sangat lama. Saya tahu banyak perjuangan beliau. Malam ini saya pertama menghadiri kegiatan di Laman Kata. Untuk berikutnya saya akan selalu hadir untuk menikmati,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Persatuan Masyarakat Aceh (Permasa) Kota Batam, H. Juanda. Ia mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah menyaksikan pertunjukan puisi tersebut.

“Saya tidak pernah menyaksikan panggung puisi serupa malam ini. Saya sangat beruntung bisa ada di Laman Kata Rumahitam malam ini. Untuk peristiwa serupa yang akan datang, saya minta Pak Tarmizi untuk mengingatkan. Saya akan selalu datang walau hanya jadi penikmat,” kata Juanda.

Rumahitam Konsisten Merawat Sastra dan Budaya Melayu

Bagi Komunitas Seni Rumahitam, pertemuan dengan penyair dari berbagai daerah bukan sekadar agenda silaturahmi. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ruang kehidupan sastra agar terus tumbuh di Kota Batam.

Salah satu agenda yang rutin digelar adalah SEBAB PUISI, yang berlangsung setiap Sabtu kedua setiap bulan di Laman Kata Komunitas Rumahitam bersama PWI Kepri. Kegiatan ini menjadi wadah bagi penyair dan masyarakat untuk mengekspresikan karya sekaligus memperluas apresiasi terhadap sastra.

Selain SEBAB PUISI, berbagai agenda kebudayaan lainnya juga disiapkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kehidupan sastra di Batam, kota yang berkembang melalui sektor industri, perdagangan, dan pariwisata.

Program budaya yang diinisiasi Tarmizi Rumahitam tersebut dirancang sebagai ruang perjumpaan bagi para pelaku seni kata lintas generasi. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pembacaan puisi, tetapi juga membuka kesempatan bagi peserta untuk berbagi pandangan dan pengalaman mengenai perkembangan dunia sastra.

Aktivitas budaya Rumahitam turut berkembang melalui kawasan kreatif Kompleks Rumahitam, termasuk panggung seni di Suratan Coffee & Resto, Sekupang. Tempat tersebut menjadi ruang bagi berbagai kegiatan seni sekaligus upaya pelestarian budaya Melayu.

Selain kegiatan sastra, Rumahitam juga menjalankan aktivitas pelestarian tradisi dan kerajinan Melayu, salah satunya melalui pembuatan tanjak.

Melalui Laman Kata dan SEBAB PUISI, Rumahitam berupaya menjaga agar sastra tetap memiliki ruang di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus budaya digital. Upaya tersebut sekaligus memperkenalkan seni kata kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Di panggung Laman Kata Rumahitam, puisi tidak sekadar menjadi rangkaian kata yang dibacakan. Karya-karya tersebut menjadi medium untuk menyampaikan gagasan, merekam persoalan kehidupan, serta mempertemukan orang-orang dari latar belakang dan daerah yang berbeda.

Malam itu, panggung sederhana di Sekupang menjadi saksi bahwa sastra tetap hidup melalui perjumpaan, dialog, dan apresiasi. Para penyair datang dari berbagai daerah, membawa karya dan pengalaman, lalu bertemu dalam satu ruang kebudayaan di Batam.

Penanggungjawab : Nov Iwandra
Editor : Aprijal
Reporter : Abyaqsa Ramadan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here